
Di masa sekarang ini, jika label perempuan yang gaptek ini terus menempel, akan banyak sekali seruan protes dari kaum perempuan. Termasuk saya sendiri, yang di bangku kuliah mulai tertarik dengan teknologi, paling tidak teknologi yang bisa memperlancar studi saya. Ketertarikan pribadi saya yang cukup besar terhadap teknologi muncul dari satu lagi kejadian menggelikan. Masih segar dalam ingatan saya cibiran teman-teman laki-laki, “Komputer loe boleh paling canggih, tapi apa bisa loe makenya?” Memang, seminggu pertama komputer tersebut dimonopoli oleh adik laki-laki saya. Tapi kata-kata rekan tersebut ternyata menggelitik dan menjadi cambuk. Itulah awal kedekatan saya dengan perangkat komputer. Ketika sedang menyusun skripsi maupun thesis semasa kuliah, saya juga sangat terbantu dengan adanya internet. Tidak perlu repot-repot ke perpustakaan dan membawa setumpuk buku maha tebal yang sebelum membacanya sudah menyesakkan hati. Selain itu, materi yang diakses juga upto-date dan informatif serta sering kali tidak tersedia di perpustakaan kampus. Teknik merupakan kata dasar yang dengan sukses menjauhkan perempuan dari teknologi. Belum lagi saat di bangku sekolah perempuan identik dengan mata pelajaran keterampilan seperti memasak dan menjahit, sementara laki-laki dengan elektronika atau komputer. Fakta menunjukkan bahwa murid laki-laki cenderung lebih dipercaya oleh Guru untuk menjadi ketua kelompok yang terkait dengan subjek seperti komputer. Perempuan lebih terlibat dalam pengumpulan materi atau teori, bahkan menjadi sekretaris. Belum lagi, ada faktor stereotype dalam istilah seperti "game boy", yang sengaja atau tidak, telah menciutkan minat anak perempuan untuk sekedar melirik permainan tersebut. Kenapa tidak "game girl"? Atau "game kid"?
Terlepas dari kondisi (yang entah sengaja atau tidak, sudah terkondisikan) di atas, pada abad ke-21 ini yang namanya perempuan, bukan lagi makhluk gaptek yang ‘takut’ terhadap teknologi. Tengok saja samping kiri-kanan kita maka akan kelihatan para ’cetek’ (cewek haitek) sibuk dengan ponsel, PDA, laptop atau media juke box-nya. Tapi apa ini jadi jaminan bahwa perempuan bukan makhluk gaptek? Kenyataan membuktikan bahwa perempuan kadang masih makhluk gaptek, tergantung pada kondisinya. Ke-gaptek-an ini memang kontribusi dari berbagai faktor seperti pendidikan, tempat kerja dan pergaulan. Namun, jika akrab dengan teknologi satu apakah lantas menjadi akrab juga dengan teknologi yang lebih ‘berat’ seperti mesin mobil?
Kenyataan lain adalah masih banyak cetek-cetek yang dengan ahlinya mengutak-atik gadget-nya tapi dengan entengnya juga ‘menyerah’ ketika dihadapkan pada kondisi ban mobil yang pecah, mobil mendadak mogok dan komputer yang mendadak ‘hang’. Ada juga sih perempuan yang piawai mengutak-atik mesin mobil atau membedah komponen komputer. Tapi mayoritas perempuan lebih suka menjadi end user dan memanfaatkan fasilitas after sales service. Dengan kata lain, perempuan bisa mengubah dirinya secara cepat dari sadar teknologi menjadi gagap teknologi, tergantung pada kondisi dan jenis teknologi yang dihadapinya. Ketika mobil mogok di jalan, kenapa menyia-nyiakan dispensasi yang melekat selama ini dan berkotor-kotor dengan oli mesin? Telepon saja pacar atau bengkel untuk mendereknya!

3 comments:
Ay ay..
apparently, i'm the first here to leave you a comment..
Hmm..first impression, kinda 'OK' but i think u must put more picts to make your every post more interesting to everyone who reads it. coz, we, readers, will suddenly 'fall asleep' to read 'more' words rather than 'see' pictures..(call me lazy..)
hmm..i think that's all for now..can't wait for more posts to come ms. virna..
^_^
Hi Virna,
Blog nya baguuuss, jd lebih tau antum. Mengenai topik ini menarik juga, kbetulan gw yg kerja di perusahaan IT, melihat cuma sekitar 10% - 20% wanita, tuk programmer paling sekitar 5%, tapi kelihatanya semakin bertambah tuuh dan asyik aja bagi kaum mayoritas (pria) ada yang enak dilihat ... ;p
Yup setuju, jgn ada paradigma gender tuk teknologi, apalagi seperti ibu ini, mana tau bisa memberikan kontribusi tekonolgi 'made in Indonesia' tuk mengalahkan dominasi teknologi negara lain.
Selamat ber-blog ...
Post a Comment