Saturday, 8 March 2008

Aa Gym dan Poligami


Poligami. Kata yang satu ini memang sering kali menimbulkan berbagai perdebatan di kalangan luas. Kalangan umat Islam, maupun kalangan yang lebih luas lagi. Terlebih bila hal tersebut kebetulan dijalankan oleh seorang public figure. Kadang saya merasa bahwa kita terlalu peduli urusan orang lain dan anehnya hal ini sering sekali terjadi. Indonesian people have a funny way of making something their business. Mungkin di sinilah letak dinamika masyarakat negeri tercinta kita ini.

Di antara sekian puluh manusia yang saya jumpai pada hari Aa Gym 'mengumumkan' bahwa dirinya melakoni poligami, Aa Gym dan poligami adalah dua kata yang tiba-tiba saja (no surprise here) menjadi topik paling menarik. Berbagai pendapat terlontar. Ada yang mengamini, tapi tidak sedikit juga yang marah dan sedih (yang ini sebagian besar datang dari kaum hawa). Salah satu beralasan bahwa Aa Gym adalah panutan di negeri ini, tidak hanya di kalangan umat Islam, tapi Aa Gym adalah tokoh nasional, bahkan internasional yang popularitasnya sampai ke negeri George Bush.

Dari berbagai pendapat yang dilontarkan, ada pendapat yang menurut saya klasik, baik klasik positif maupun klasik negatif. Klasik positif adalah mereka yang mengamini. Klasik negatif adalah mereka yang marah. Saya tidak akan membahas kelompok klasik ini, karena akan berujung pada ketidakpuasan kedua kutub. Yang menurut saya paling menarik dalam poligami Aa Gym adalah pendapat yang menyayangkan langkah Aa Gym melakukan poligami di saat beliau sedang dalam puncak. Puncak popularitas, puncak karir sebagai Dai, puncak prestasi. Apakah jika Aa Gym hanya seorang lelaki biasa, bukan seorang Dai dengan jutaan jemaat, maka poligaminya akan lebih ‘afdol’ begitu? Sangat menarik sekaligus sangat menyedihkan.


Poligami vs Kemunafikan

Apakah monogami yang dikelilingi oleh kemunafikan menjadi lebih baik dibandingkan kejujuran dan keterbukaan dalam berpoligami? Poligami seringkali dianggap bertentangan dengan feminisme, akan tetapi oleh masyarakat malah dianggap sebagai solusi problema sosial yang mendapat legitimasi agama.

Pendapat yang mengatakan bahwa poligami sama sekali tidak benar dan bertentangan naluri manusia, khususnya perempuan adalah pikiran yang dangkal. Allamah Thabathabai seorang filsuf, dalam bukunya Maqalot secara jelas menyinggung bahwa pernyataan poligami bertentangan dengan naluri perempuan sebagai manusia adalah tidak benar, karena yang menjadi istri kedua juga perempuan yang dengan senang hati melakukannya. Seandainya bertentangan dengan naluri perempuan, maka tidak akan ada perempuan yang bersedia menjadi istri kedua.


Hikmah dari sisi pengkultusan individu

Di sisi tanggapan khalayak ramai terhadap poligami ala Aa Gym ini menimbulkan kesadaran di hati kita bahwa Aa Gym hanyalah manusia biasa, yang memiliki kebutuhan. Dan seperti keterangan yang sudah kita baca bahwa keputusan berpoligami ini bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Jelaslah sudah mengapa Allah melarang pengkultusan individu. Mungkin di sisi lain ini adalah event di mana manusia atau jemaat Aa Gym terbangun dari mimpi bahwa Aa Gym adalah manusia suci. Aa Gym hanya seorang manusia biasa. Tapi di balik itu siapa yang bisa memprediksi bahwa pernikahan kedua tokoh sekondang Aa Gym akan membawa hikmah. Siapa tahu, Aa Gym malah bisa memberi teladan baru di kalangan para poligamist yang sudah mendahuluinya dengan perilaku dan contoh yang baik. Siapa tahu.

Terlepas dari pro dan kontra poligami ala Aa Gym, poligami tetap bisa muncul sebagai solusi sosial dan mendapat legitimasi dari syariat. Tapi tidak berarti bahwa semua bentuk poligami itu sunnah dan mendapat dukungan penuh dari agama. Tapi dalam kondisi tertentu, poligami juga dapat dikatakan sebagai sunnahnya. Sunnah dan tidaknya poligami, tergantung pada bentuk poligami dan motif berpoligami. Wallahu alam.

3 comments:

Akhyari said...

hemmm...i hope this wouldnt be your last resort.

Unknown said...

Gusti...

Sebuah tulisan yang komprehensif, tapi kurang "benderang" terhadap positioning dari penulis atas poligami.Bisa saja, tulisan ini sengaja dan secara sadar oleh penulis untuk membangkitkan rasa penasaran pembaca.Idealnya, tulisan yang enak dikonsumsi publik untuk urusan yang sangat private ini, penulis menegaskan dimana dia berada.

Yang menarik belakangan ini, reaksi publik atas pilihan Aa Gym untuk melakukan poligami, ternyata tidak seindah, pilihan Fachri,aktor di film Ayat - Ayat Cinta, ketika juga pada akhirnya berpoligami. Entah karena, realitas dan setting keduanya berbeda: satu film satu dunia nyata, atau karena bisa jadi, di Film Ayat-Ayat Cinta, penonton diberi kesempatan untuk mengetahui proses dan latar belakang kenapa akhirnya Fachri berpoligami.

Sehingga, dalam kasus Fachri, publik mengetahui asbabun nuzulnya, sementara untuk kasus Aa Gym, publik tidak cukup punya hati dan mata untuk menerima kenyataan bahwa idolanya-pun, dalam hal ini Aa Gym memilih berpoligami. Realitas ini saya sampaikan karena, simpati publik kepada Fachri jauh lebih ramah dan menggembirakan. Setidaknya, ini ditunujkkan oleh animo dari kaum Ibu-ibu pengajian dan para remaja putri yang rela antri untuk menyaksikan bagaimana drama poligami terjadi dalam kehidupan Fachri. Yang lebih mengherankan, tidak terdengar umpatan, cibiran atau bahkan boikot terhadap jadwal penayangan Ayat-Ayat Cinta, setidaknya sejauh ini dibeberapa kota besar di Indonesia.

Poster dan Spanduk besar film ini, masih kokoh berdiri dan mengundang siapa saja untuk menyaksikan tontonan segar berkualitas yang jarang dimiliki sineas Indonesia sejauh ini.

Kembali kepada topik tulisan ini, menurut saya, alasan dan rasionalitas seseorang memilih poligami rasanya menjadi faktor penentu atas reaksi pihak ketiga yang mungkin diterimanya. Sebagaimana Rasululloh Muhammad SAW, melakukannya.

Wallahu'alam Bisshawab.

Reza said...

amen to that...akhyari..

visit societyofsoul.blogspot.com